SELUMA — Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, memastikan pihaknya telah meminta invoice atau faktur belanja dua pekan terakhir dari setiap Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang beroperasi di daerah itu. Permintaan itu disampaikan saat monitoring ke PT Bengkulu Sawit Lestari (BSL) II dan PT Mutiara Sawit Seluma (MSS) pada Jumat (29/5) siang.
“Kami tadi melakukan monitoring sekaligus meminta pihak perusahaan untuk menyampaikan invoice atau faktur pembelanjaan 2 minggu terakhir, supaya ada bahan kita rapat bersama dengan Wakil Gubernur Bengkulu Sabtu besok,” ujar Arian Sosial.
Invoice Jadi Acuan Grafik Harga TBS
Invoice yang dikumpulkan tidak hanya berisi bukti transaksi, tetapi juga catatan pelaporan keuangan dan pajak perusahaan. Dokumen itu akan digunakan untuk melihat grafik naik turunnya harga TBS kelapa sawit dalam dua pekan terakhir.
Data tersebut menjadi acuan saat rapat bersama Wakil Gubernur Bengkulu H. Mian yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (30/5) pukul 14.00 WIB di Gedung Merah Putih. Rapat itu akan membahas penetapan harga TBS terbaru se-Provinsi Bengkulu.
Harga Sempat Anjlok Akibat Penurunan Sepihak
Sebelumnya, harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Seluma mengalami penurunan drastis. Penyebabnya adalah penurunan harga secara sepihak yang dilakukan oleh seluruh pabrik CPO di wilayah tersebut.
Namun, harga kini mulai merangkak naik kembali secara signifikan. Kondisi ini terjadi setelah adanya kepastian transisi tata kelola ekspor melalui satu pintu PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang mulai diterapkan pada 1 Januari 2027 mendatang.
Dengan terkumpulnya invoice dari masing-masing pabrik, Dinas Pertanian Seluma berharap rapat bersama Wagub Bengkulu bisa menghasilkan keputusan harga yang adil bagi pekebun sawit di daerah itu.