JAKARTA — Mata uang rupiah menunjukkan tren pelemahan tajam terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Google Finance pukul 09.03 WIB, kurs rupiah terpantau menyentuh angka Rp 17.603,20 per dollar AS.
Pergerakan negatif ini mengonfirmasi tekanan berat yang dialami mata uang Garuda sejak pembukaan pasar. Pada awal perdagangan, rupiah sebenarnya sempat bergerak di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550, namun permintaan dollar AS yang tinggi segera mendorong nilai tukar melampaui level Rp 17.600.
Kondisi ini memperpanjang tren koreksi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah bertengger di level Rp 17.529 per dollar AS. Penguatan dollar AS secara global menjadi faktor eksternal utama yang sulit dibendung oleh pelaku pasar di dalam negeri.
Harga Minyak Brent di Atas 110 Dollar AS Bebani Mata Uang Garuda
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu variabel kunci yang memicu kecemasan investor terhadap ketahanan ekonomi nasional. Harga minyak jenis Brent yang kini bertahan di atas level 110 dollar AS per barel memberikan tekanan ganda bagi neraca perdagangan dan stabilitas nilai tukar.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa kenaikan komoditas energi global ini masih membebani mata uang regional, termasuk rupiah. Menurutnya, pelemahan yang terjadi cukup besar dibandingkan periode sebelumnya.
“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong.
Potensi Rupiah Menguji Level Rp 17.800 Jika Arus Modal Belum Pulih
Kondisi pasar saat ini ditandai dengan meningkatnya sentimen risk off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko di pasar negara berkembang. Arus modal asing yang belum pulih membuat posisi rupiah rentan terhadap guncangan eksternal lebih lanjut.
Ekonom Josua Pardede memproyeksikan bahwa pelemahan ini masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Jika indikator makro global tidak segera membaik, rupiah diprediksi akan mencari titik keseimbangan baru yang lebih rendah.
“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede.
Fakta Singkat Pelemahan Rupiah Mei 2026:
- Kurs rupiah menembus level psikologis Rp 17.603,20 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026) pagi.
- Harga minyak mentah dunia jenis Brent konsisten berada di atas 110 dollar AS per barel.
- Laporan Reuters menyebut rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 akibat kekhawatiran kondisi fiskal.
- Sentimen global dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.
Data Pasar: Rekor Terlemah di Tengah Kekhawatiran Kondisi Fiskal
Selain faktor harga energi, pelaku pasar kini mulai menyoroti kondisi fiskal Indonesia. Reuters melaporkan adanya kekhawatiran investor yang mendalam, sehingga rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 per dollar AS sebelum akhirnya menembus angka Rp 17.600.
Data dari platform Bloomberg dan Morningstar juga menunjukkan tren serupa, di mana rupiah terus bergerak dalam zona merah tanpa perlawanan berarti. Penguatan dollar AS yang terjadi secara masif di pasar global membuat mata uang negara berkembang kehilangan daya tarik.
Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan segera mengambil langkah stabilisasi untuk meredam volatilitas yang terlalu tajam. Jika tidak ada intervensi atau perbaikan sentimen, beban impor yang membengkak akibat pelemahan rupiah berisiko memicu inflasi di tingkat masyarakat luas.