BENGKULU — Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bengkulu, Syafrudin Imam Negara, memaparkan capaian 99,4 persen tersebut dihitung berdasarkan basis data kependudukan semester satu tahun 2026. Angka itu menempatkan Bengkulu di ambang target Universal Health Coverage (UHC) mutlak 100 persen.
Selisih 0,6 persen yang belum tercakup menjadi pekerjaan rumah terakhir. Syafrudin menyebut penuntasan celah itu butuh keterlibatan semua pihak, bukan hanya BPJS Kesehatan.
"Untuk Bengkulu, itu sudah 99,4 persen. Sehingga masih ada kurang lebih 0,6 persen penduduk yang belum tercakup. Diperlukan kerja sama seluruh pihak untuk mencapai cakupan 100 persen," ujar Syafrudin dalam kegiatan Media Gathering Temu Media dan Sosialisasi Program JKN di Ballroom Hotel Santika Bengkulu, Senin (28/9/2026).
BPJS Kesehatan mengandalkan program PESIAR (Petakan, Sisir, Advokasi, dan Registrasi) untuk memburu sisa penduduk yang belum masuk sistem JKN. Pemerintah desa dipilih sebagai pelaksana utama karena posisinya paling dekat dengan warga.
Kedekatan itu mempermudah identifikasi orang per orang, baik yang sama sekali belum terdaftar maupun yang status kepesertaannya nonaktif. Dua kategori itu jadi sasaran utama PESIAR.
Syafrudin menekankan kolaborasi ini harus berjalan vertikal, dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga aparat desa terkecil. Tidak ada satu lapisan pemerintahan yang bisa bekerja sendiri.
Menambah peserta baru bukan satu-satunya fokus. Validasi status keaktifan kartu juga jadi perhatian utama BPJS Kesehatan Cabang Bengkulu.
Pasalnya, kepesertaan yang tercatat tidak selalu berarti kartu bisa langsung dipakai. Status nonaktif membuat manfaat jaminan kesehatan tertahan saat warga butuh pelayanan medis.
Karena itu, PESIAR tidak berhenti pada pendaftaran. Aparat desa juga memastikan warga yang sudah terdaftar tetap menyandang status kepesertaan aktif, sehingga kartu JKN bisa digunakan kapan pun dibutuhkan.