BENGKULU — Rencana tersebut disampaikan manajemen PT MRT Jakarta sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat integrasi moda transportasi dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki. Kawasan Blok M dan Senayan dinilai memiliki potensi besar karena volume perpindahan penumpang yang tinggi serta banyaknya gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan area komersial di sekitarnya.
Keberhasilan proyek serupa di Stasiun Bundaran HI menjadi acuan utama. Jalur bawah tanah di lokasi itu berhasil menghubungkan stasiun MRT dengan mal dan perkantoran di sekitarnya secara langsung, mengurangi kebutuhan pejalan kaki untuk menyebrang di permukaan jalan yang padat.
Konsep yang dikembangkan bukan sekadar terowongan penyeberangan biasa. MRT Jakarta ingin membangun akses yang terintegrasi penuh dengan gedung-gedung di sekitar stasiun, sehingga pengguna dapat bergerak dari pintu stasiun menuju lobby gedung tanpa harus keluar ke ruang terbuka.
Untuk kawasan Senayan, koneksi bawah tanah berpotensi menjangkau area perkantoran di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga kawasan Gelora Bung Karno. Sementara di Blok M, titik sambungan diarahkan ke pusat perbelanjaan dan kawasan kuliner yang menjadi tujuan utama pengguna MRT.
Manajemen menyatakan kajian teknis dan studi kelayakan masih berjalan. Beberapa opsi pendanaan tengah dipertimbangkan, termasuk kerja sama dengan pengembang properti di sekitar stasiun. Pola ini pernah diterapkan pada proyek serupa di sejumlah kota besar Asia, di mana pengembang berkontribusi dalam pembangunan akses bawah tanah sebagai imbalan atas peningkatan nilai properti.
Keterlibatan pihak swasta dinilai penting mengingat kebutuhan investasi yang tidak kecil. Semakin banyak gedung yang terhubung langsung ke stasiun, semakin tinggi nilai komersial kawasan tersebut, sehingga kontribusi pengembang menjadi relevan.
Langkah ini sejalan dengan rencana besar MRT Jakarta dalam beberapa tahun ke depan. Selain mempersiapkan jalur baru, penguatan konektivitas di stasiun eksisting menjadi prioritas agar tingkat okupansi penumpang terus meningkat.
Integrasi bawah tanah juga diharapkan mampu mengurai kepadatan di trotoar dan mengurangi risiko kecelakaan pejalan kaki. Di kawasan padat seperti Blok M dan Senayan, pergerakan pejalan kaki sering kali bersinggungan dengan arus kendaraan bermotor, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Belum ada kepastian jadwal konstruksi maupun nilai investasi final untuk proyek ini. Keputusan akan diambil setelah kajian teknis, kajian ekonomi, dan negosiasi dengan calon mitra selesai dilakukan.